Sekolah yang kita tempati ini memang sudah lama menjadi lembaga pendidikan yang ambruk. Penghafalan teks Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dilakukan oleh anak-anak sekolahan dari jenjang SMP-SMA pada saat pelaksanaan upacara nyatanya hanya dilakukan tanpa refleksi yang mendalam.
Salah satu penggalan kalimat di teks UUD 1945 yang berbunyi “…mencerdaskan kehidupan bangsa…”, merupakan semangat para pendiri bangsa yang ingin diwujudkan. Kita menyakini bahwa apa yang tertulis di dalam teks tersebut merupakan cita-cita para pendiri bangsa yang diproyeksikan agar mampu direalisasikan suatu hari nanti demi mencapai keharmonisan berbangsa dan bernegara.
Namun, cita-cita tersebut nyatanya dinilai sudah cukup jauh melenceng dari koridor pendidikan sebagaimana para pendiri bangsa harapkan. Kita bisa melihat sekarang, bahwa upaya mencerdaskan kehidupan bangsa yang dilakukan oleh pemerintah sepertinya belum bersifat holistik atau bahkan sejauh ini hanya bersifat formalitas belaka. Lembaga-lembaga pendidikan yang menjadi akses untuk mencapai kecerdasan bangsa tersebut sudah kotor melalui sekolah.
Berdasarkan keresahan itulah tulisan ini mencoba untuk mengupas realitas pahit di balik tembok sekolah, jauh dari citra ideal sebagai tempat mencerdaskan kehidupan bangsa. Praktek-praktek penindasan, kurangnya relevansi materi, dan minimnya pengembangan keterampilan menandakan ambruknya sistem pendidikan formal.
Sekolah saat ini tidak menjamin pekerjaan
Sekolah, tempat yang seharusnya menjadi ruang pencerahan bagi anak-anak bangsa, justru terperangkap dalam lingkaran pembohongan. Dunia pendidikan seakan terkungkung dalam fantasi, jauh dari realitas bumi yang sesungguhnya.
Sekolah enggan membuka mata para muridnya terhadap kenyataan pahit di luar temboknya: korupsi yang merajalela, kerusakan alam yang tak terkendali, kesenjangan sosial yang kian tampak jaraknya, dan berbagai problematika bangsa lainnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2023, terdapat 7,99 juta pengangguran di Indonesia. Fakta ini menjadi bukti nyata kegagalan sistem pendidikan, khususnya sekolah, dalam mempersiapkan generasi muda untuk dunia kerja.
Para pengangguran ini, selain memiliki pengetahuan yang rendah, juga tidak memiliki daya kreasi dan keterampilan yang memadai. Hal ini menyebabkan mereka ditolak oleh dunia kerja. Ironisnya, bahkan mereka yang memiliki nilai bagus di bangku sekolah pun seringkali merasa bingung ketika memasuki dunia kerja. Mereka tidak memiliki keterampilan untuk beradaptasi dengan lingkungan kerja dan menyelesaikan tugas-tugas praktis.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya sarjana yang tidak mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Bahkan, banyak sarjana dengan IPK tinggi yang tidak memiliki keterampilan teknis. Justru mereka yang hanya lulusan kursus kilat atau belajar otodidak yang lebih terampil.
Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa sekolah, meskipun tampak kokoh dari luar, telah lama ambruk secara esensial. Sekolah gagal dalam menjalankan fungsinya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mempersiapkan generasi muda untuk masa depan.
Ketakutan pun menyelimuti dunia pendidikan. Itulah konsekuensi sekolah yang takut untuk membangkitkan kesadaran kritis para muridnya. Takut untuk membuka cakrawala pemikiran mereka dan menantang status quo.
Praktek-praktek penindasan masih marak terjadi, mencederai fungsi utama sekolah: membentuk watak mulia (afektif), mengembangkan ilmu pengetahuan (kognitif), dan melatih keterampilan (psikomotorik).
Seperti kata Benjamin Bloom, seorang psikolog pendidikan ternama, ketiga fungsi tersebut merupakan pilar utama pendidikan. Pertanyaannya, apakah pilar-pilar ini masih kokoh berdiri di sekolah-sekolah kita saat ini? Atau, jangan-jangan, sekolah telah ambruk, rata dengan tanah, terkubur di bawah tumpukan kepura-puraan dan ketakutan?
Perundungan, Bukti Ambruknya Fungsi Sekolah
Fenomena lembaga pendidikan yang tidak ramah siswa juga terlihat dari maraknya peristiwa perundungan yang marak terjadi di sekolah, termasuk kasus terbaru di sebuah sekolah terkemuka, menjadi bukti nyata bahwa fungsi sekolah sudah tidak berjalan normal. Perundungan menunjukkan gagalnya sekolah dalam membentuk watak dan moralitas (afektif) para muridnya.
Kegagalan ini pun merembet pada fungsi kognitif dan psikomotorik. Pengetahuan yang diajarkan di sekolah seringkali tidak relevan dengan realitas dan kebutuhan masa depan murid. Hal ini terlihat dari banyaknya murid yang mengikuti bimbingan belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi, karena merasa sekolah tidak mampu memberikan pengetahuan yang cukup.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pembentukan domain kognitif untuk siswa dari sekolah pun telah ambruk. Tak hanya itu, banyak lulusan sekolah yang akhirnya menganggur karena minimnya keterampilan yang mereka miliki, menandakan kegagalan dalam domain psikomotorik.
Mari kita renungkan kembali, pengetahuan apa yang benar-benar kita peroleh dari 12 tahun bangku sekolah? Apakah masih relevan dengan kebutuhan saat ini? Fakta bahwa banyak orang tidak mengingat pelajaran sekolah menunjukkan kegagalan sistem pendidikan dalam membangun fondasi pengetahuan yang kokoh.
Lantas, bagaimana dengan domain psikomotorik? Apakah sekolah telah membekali para lulusannya dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja? Kenyataan menunjukkan bahwa banyak lulusan yang menganggur karena tidak memiliki keterampilan yang memadai.
Kasus perundungan, ketidakrelevanan materi pelajaran, dan minimnya keterampilan menunjukkan ambruknya fungsi pendidikan di berbagai domain. Kondisi ini menunjukkan bahwa cognitive domain sekolah pun telah ambruk.
Tak hanya itu, banyak lulusan sekolah yang akhirnya menganggur karena minimnya keterampilan yang mereka miliki, menandakan kegagalan dalam domain psikomotorik. Sistem pendidikan perlu ditinjau ulang dan direvitalisasi agar mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan benar.
Penulis: Wahyuddin Fahrurrijal
Editor: Bintang S. W.







