Sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) Desa Tulungrejo Kelompok 3 mengadakan program kerja bertema “Pengenalan Seni dan Budaya” di SDN Tulungrejo 01 pada 28–30 Juli 2025. Kegiatan ini menyasar siswa kelas 5 dengan jumlah peserta sebanyak 30 anak.
Program pengenalan seni batik tersebut dipandu oleh Nafisa Indira Permata Dewi, mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2023, bersama empat rekannya, yakni Haydar Gymnastiar, Krisna Yahya Nova Saputra, Syahrul Adi, dan Defira Alya Salsabila. Berbeda dari proses membatik tradisional, para mahasiswa mengajak murid untuk melukis motif batik di atas totebag polos menggunakan cat air. Enam motif khas Indonesia yang dikenalkan antara lain parang, kawung, lereng, mega mendung, kerang, dan daun.
“Kami ingin anak-anak mengenal batik dengan cara yang menyenangkan dan mudah diikuti. Dengan media totebag, hasil karya mereka bisa langsung dipakai dan dibanggakan,” ujar Nafisa.
Antusiasme siswa terlihat sejak kegiatan dimulai. Dengan semangat, mereka menjiplak motif yang telah disediakan lalu memberi warna sesuai kreativitas masing-masing. Beberapa anak bahkan langsung menunjukkan hasil totebag yang sudah jadi kepada guru maupun teman-temannya. “Senang sekali bisa belajar membatik seperti ini. Totebagnya juga bisa saya pakai ke sekolah untuk menaruh kotak bekal,” ungkap salah satu siswa kelas 5 dengan wajah ceria.
Guru dan pihak sekolah menyambut baik inisiatif mahasiswa. Supriyanto, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SDN Tulungrejo 01, menilai kegiatan ini bukan hanya memberi pengalaman baru, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya bangsa. “Kami berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa yang sudah menghadirkan kegiatan kreatif ini. Harapannya bisa terus berlanjut agar anak-anak semakin memahami pentingnya melestarikan budaya,” ujarnya.
Bagi para mahasiswa, kegiatan ini menjadi pengalaman berharga sekaligus tantangan tersendiri. Selain berbagi ilmu, mereka juga belajar berinteraksi dengan anak-anak yang memiliki karakter berbeda. “Kami merasa mendapat pelajaran berharga dari sini. Tidak hanya mengajar, tapi juga belajar bagaimana menghadapi karakter anak-anak yang beragam,” kata Nafisa yang juga bertugas sebagai sekretaris kelompok.
Dengan semangat kolaborasi, mahasiswa UMM berharap kegiatan sederhana ini dapat menjadi pijakan kecil dalam upaya melestarikan seni dan budaya Indonesia. Melalui pengenalan batik sejak dini, mereka percaya generasi muda akan semakin mencintai warisan budaya sekaligus bangga untuk menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kontributor: Riri
Editor: Iqbal Syahsaputra







