Imparo.net

Mahasiswa PMM UMM Serahkan Peta Wilayah untuk Bantu Tata Kelola Desa Sekargadung

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Program PMM Bhaktiku Negeri memberikan kontribusi nyata bagi Desa Sekargadung, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, dengan menyerahkan peta wilayah terbaru. Peta ini menjadi hasil kerja kolaborasi Kelompok 4 dan Kelompok 5 PMM UMM, yang disusun untuk memudahkan desa dalam perencanaan pembangunan, pelayanan masyarakat, hingga tata kelola jangka panjang.

Penyerahan dilakukan secara simbolis kepada Kepala Desa Sekargadung, Ponidi, di Balai Desa. Peta tersebut tidak hanya berisi batas administrasi, tetapi juga mencakup RT/RW, lokasi fasilitas umum, hingga titik-titik potensi desa yang dapat dikembangkan.

Untuk menyusunnya, para mahasiswa terjun langsung ke lapangan. Mereka menyusuri jalan desa, mencatat lokasi penting, mendiskusikannya dengan warga, serta memetakan titik koordinat menggunakan alat pemetaan agar hasil lebih akurat. Proses ini dikerjakan bersama perangkat desa, sehingga benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.

Kelompok 5 PMM UMM terdiri dari Muhammad Fajar Maulana (Koordinator), Shafira Putri Sakinah, Dandy Agung Laksono, Azriel Lazuardi R.N., dan Firka Angkasa. Sementara Kelompok 4 dipimpin oleh Muhammad Fadhil Atho’illah sebagai koordinator. Kedua kelompok berbagi peran, mulai dari observasi, pencatatan data, hingga penyusunan peta akhir yang akhirnya diserahkan kepada desa.

“Pengalaman ini sangat berharga. Kami belajar langsung dari warga bahwa data wilayah sederhana, seperti letak fasilitas umum, punya peran penting bagi desa untuk menentukan program kerja. Kami senang bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Muhammad Fajar Maulana.

Kepala Desa Sekargadung, Ponidi, menyambut baik inisiatif mahasiswa. “Dengan peta ini, kami lebih jelas mengetahui batas desa dan lokasi fasilitas umum. Ini akan sangat membantu ketika ada pembangunan jalan, perbaikan saluran air, atau rencana program lainnya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan Shafira Putri Sakinah. Ia menilai proses turun lapangan membuat mahasiswa lebih dekat dengan masyarakat. “Pembuatan peta memang cukup panjang, tapi justru itu yang membuat kami lebih paham kebutuhan warga. Kami sadar pembangunan desa harus sesuai dengan realitas masyarakat,” ucapnya.

Sementara itu, Muhammad Fadhil Atho’illah menekankan pentingnya kerja sama antar kelompok. “Kami saling melengkapi. Kelompok kami banyak terlibat dalam pencatatan lapangan, sementara Kelompok 5 fokus pada penyusunan peta akhir. Hasilnya kini bisa langsung digunakan desa,” jelasnya.

Selain menyerahkan peta, mahasiswa juga memberikan penjelasan singkat kepada perangkat desa tentang cara membaca dan memanfaatkannya. Harapannya, dokumen ini dapat terus digunakan sebagai panduan pembangunan desa yang lebih efektif, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Kontributor: Fajar Maulana

Editor: Iqbal Syahsaputra

Terbaru

Terpopuler

  • donasi-imparo

    Post Terkait