Imparo.net

Gagasan Pedagogi Kritis dan Kesukaran Implementasinya

Gagasan pedagogi kritis mungkin tidak asing ditelinga para penggiat bidang pendidikan. Gagasan yang dipelopori seorang tokoh filsafat pendidikan bernama Paulo Freire pada akhir abad ke 20 ini merupakan suatu gagasan yang terbilang radikal dan revoluioner pada masanya.

Gagasan pedagogi kritis yang digagas oleh Freire ini dia tuangkan pada bukunya yang berjudul “Pedagogy of the Oppresed” atau dalam bahasa Indonesia “Pendidikan Kaum Tertindas ” terbilang semakin eksis pada abad ke 21 ini dan banyak orang yang mencoba mengimplemantasikan gagasan Freire, baik sebagai metodologi dalam pendidikan atau paradigma dalam melihat suatu fenomena.

Akan tetapi, dalam proses mengimplementasian gagasan Freire saat ini, seperti yang banyak dilakukan oleh beberapa orang, terdapat beberapa kesukaran dan ketidaksesuaian bahkan kegagalan dalam pengimplementasiannya seperti gagasan orisinil Freire kala itu baik secara orientasi ataupun metodologi.

Donaldo Macendo seorang sahabat Freire sekaligus seorang Profesor Seni Liberal dan Pendidikan, Universitas Of Massachusetts, Boston yang sempat terlibat dalam beberapa kegiatan dengan Freire kala itu menemukan sebuah fenomena bahwa, pada Fakultas Pendidikan Harvard untuk mata kuliah “Literasi,Politik dan Kebijakan” tidak meminta para mahasiswanya untuk membaca,mengkritik bahkan menganalisis karya Freire.

Hal ini jelas menjadi pertanyaan dan kritik Macendo, bagaimana mungkin sebuah pemikiran yang memiliki sumbangsih besar pada masanya dalam ranah pendidikan, termasuk pada sejarahnya landasan dasar kemunculannya konsep pendidikan pedagogi kritis Freire sangat memiliki korelasi terhadap fenomena politik dan sosial di Amerika saat itu, tidak dijadikan pembahasan dalam proses pembelajaran mata kuliah tersebut.

Atau pada fenomena lain yang juga menarik, Macendo menemukan bahwa dalam memahami gagasan pedagogi kritis milik Freire untuk para akademisi merasa bahasa dan ide Freire tidak dapat dimengerti. Sedangkan, seorang yang setengah terpelajar dan seorang anak miskin dapat dengan mudah mengerti dan terhubung dengan kerumitan bahasa dan ide dari Freire.

Hal ini tentu menjadi perhatian sendiri, terkhusus bahwa ada fenomena ketimpangan pemahaman antara para akademisi dalam memahami bahasa dan ide Freire yaitu, mereka memiliki kesukaran dalam memahami bahasa dan ide Freire. Sedangkan, seorang yang setengah terpelajar dan seorang anak miskin tadi mampu lebih memahami bahasa dan ide Freire.

Gagalnya implementasi gagasan

Dibalik fenomena ketimpangan pemahaman ini ada hal penting yang ternyata dilewatkan oleh para akademisi untuk memahami bahasa dan ide Freire, yaitu adanya sisi refleksi dan pengalaman langsung yang menjadi landasan serta tujuan dari gagasan milik Freire.

Adanya sisi eksklusifitas pendidikan saat itu yang menjadi milik individu dengan ekonomi menengah keatas, serta kekuatan politik tujuan yang dimasukan kedalam pendidikan oleh para pemegang kekuasaan saat itu tentu menjadi titik puncak pada perefleksian Freire dalam gagasan serta pedagogi kritis ini.

Apabila kita lihat sejarah kemunculan gagasan pedagogi kritis, gagasan Freire tak sekedar menjadi metodologi dalam pendidikan. Akan tetapi, apabila kita memahami lebih jauh terhadap gagasan ini, kita akan menemukan kekayaan filosofis didalamnya yang bahkan harusnya dan harapannya gagasan dari Freire mampu menjadi suatu ideologi dalam kehidupan.

Sedikit berefleksi dengan melihat konteks saat gagasan ini muncul pada keadaan hari ini, maka kita akan menemukan pengalaman nyata dalam kisahnya Freire secara kondisi individu ataupun lingkungannya saat itu yang menjadi latar belakang gagasan serta aksi yang dilakukan oleh Freire untuk membebaskan ketertindasan yang dirasakan oleh masyarakat dilingkungannya saat itu dengan pendidikan pedagogi kritis ini.

Kata “Tertindas” dan “Penindas” yang sering digunakan Freire pada gagasan ini juga menjadi suatu poin pembahasan, dimana adanya suatu perengutan kebebasan dan penciptaan ketakutan akan kebebasan oleh penindas kepada yang tertindas atau adanya kritik fenomenalnya Freire terhadap suatu sistem pendidikan saat itu yang dia sebut sebagai pendidikan gaya bank.

Freire mengibaratkan bahwa pendidikan gaya bank saat itu mengobjekan siswa dalam pembelajarannya, atau dalam prosesnya murid berperan sebagai bank dan guru sebagai penabung yang secara komunikasi pembelajaran tidak adanya komunikasi aktif antara guru dan murid. Sehingga, hanya guru mengeluarkan pendapat dan murid harus dengan sabar menerima,mengingat dan mengulang.

Ketidakmampuan individu dalam melihat sejarah kemunculan gagasan,poin –point gagasan,serta adanya penyempitan gagasan inilah yang menyebabkan gagasan pedagogi kritis hanya berperan sampai ranah metodelogi serta mendapatkan kekeliruan dalam orientasi atau proses implementasinya.

Usaha untuk memahami gagasan

Apabila coba tarik sebuah benang merah, ada satu titik kunci pada permasalaha ini yaitu keinginan orang saat ini untuk memahami gagasan Freire tidak diikuti dengan refleksi yang mendalam serta, kepekaan terhadap fenonema sosial dan kemauan mendalam untuk menghilangan konsep penindasan seperti yang diharapkan oleh Freire sendiri.

Adanya permasalahan ini juga memunculkan permasalahan yang berefek domino. Dimulai dari adanya ketidak tuntasan memahami gagasan pedagogi kritis secara ontologis, serta hanya membuatnya sebatas menjadi sebuah metodelogi, akan kemudian memunculkan penyimpangan pada proses ataupun tujuan implementasi gagasan ini.

Terakhir, dalam menguraikan permasalahan ini masih ada beberapa kekurangan. Akan tetapi, untuk mencoba untuk memahami gagasan pedagogi kritis milik freire ini, memang perlu untuk bisa membaca realitas sosial dan secara sadar melihat suatu kesalahan berbentuk penindasan baik secara pemikiran ataupun perbuatan maka saya ingin ucapkan “SADARLAH DAN LAWAN”.

Terbaru

Terpopuler

  • donasi-imparo

    Post Terkait