Di balik keberhasilan proses belajar mengajar di SMAN 7 Malang, ada sosok inspiratif seperti Bu Nurul Khusnia, guru Bahasa Jerman yang tidak hanya piawai dalam menyampaikan materi, tetapi juga terampil dalam menghadapi tantangan kelas. Dalam wawancara eksklusif ini, Bu Nurul berbagi pengalaman dan strategi yang digunakannya untuk menjaga suasana kelas tetap kondusif dan menarik, serta pandangannya tentang potensi dan tantangan penerapan Kurikulum Merdeka.
Bu Nurul Khusnia menghadapi tantangan besar dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif untuk belajar. Ketika suasana tidak mendukung, siswa akan kesulitan untuk berkonsentrasi. Untuk mengatasi hal ini, Bu Nurul melatih dirinya untuk lebih mengontrol emosi, bersikap tegas, dan menambah semangat dalam mengajar agar suasana kelas menjadi lebih menyenangkan dan dinamis. Karena jika guru gagal menciptakan suasana yang baik, siswa akan mudah merasa bosan dan kehilangan minat terhadap pelajaran.
Menjadi pengajar di SMAN 7 Malang, Bu Nurul Khusnia memberikan tips cara bersabar dengan murid yang sulit diatur. Hal pertama yang harus perhatikan adalah faktor mengapa murid tersebut bisa tidak patuh. Misal, murid tersebut malas mengerjakan tugas, maka perlu ditanyakan kepada murid. Mungkin murid tersebut belum paham dengan materi yang diberikan dan memilih untuk tidak mengerjakan tugas. Murid seperti itu harus dibimbing secara terus menerus, tetapi kalau sudah tidak bisa diatasi akan lebih baik jika menegurnya dan bersikap lebih tegas.
Contohnya menerapkan punishment (hukuman) kepada murid tersebut. Tetapi, menurut pendapat Bu Nurul penerapan punishment (hukuman) memiliki banyak dampak negatif nya. Semisal murid tidak membawa buku lalu dihukum lari, punishment tersebut tidak sesuai dengan hal yang dilakukannya. Jika ingin memberi punishment terhadap murid sebaiknya membuat refleksi.
Sebagai contoh, kini ada banyak kelas yang terdiri dari berbagai peminatan yang siswa pilih. Seperti kelas teknik, kelas sosial dan bisnis, kelas biologi, dan lain lain. Tentunya jika diterapkan secara maksimal, hal ini berdampak positif bagi masa depan mereka.
Siswa dapat mempersiapkan diri lebih baik untuk perguruan tinggi dengan ilmu dan pengalaman yang diperoleh sejak SMA melalui Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pendidikan yang terus berubah. Kurikulum Merdeka membantu siswa memilih jurusan sesuai minatnya. Namun, penerapannya di lapangan sering berbeda karena berbagai faktor. Salah satu masalahnya adalah siswa sering salah mengartikan kebebasan belajar, sehingga mereka cenderung kurang disiplin.
Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman konsep dan sosialisasi mendalam mengenai “Apa sih kurikulum Merdeka belajar itu?”. Disisi lain, banyak pengajar yang kurang maksimal dalam melakukan pembelajaran di kelas, hal ini juga bisa terjadi karena kurangnya perhatian guru terhadap implementasi yang optimal.
Penulis: Kelompok 5 Pengantar Ilmu Kependidikan (Off B7-Fakultas Sastra-UM)
Editor: Abdul Khair







