Pernikahan adalah sebuah momen sakral bagi tiap mempelai. Persiapanya pun tidak bisa main-main, mulai dari mempersiapkan dekorasi sampai mengkoordinir ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) pasti membutuhkan waktu yang cukup panjang. Maka dari itu sebuah pernikahan perlu dibuat semeriah mungkin untuk memperingati pernikahan. Tidak tanggung -tanggung, pernikahan di desa biasanya dirayakan 1 minggu penuh dengan pedangdut lokal lengkap dengan crew ketipung dan elektonenya.
Pernikahan Kota vs Pernikahan Desa
Masyarakat kota dalam melaksanakan pernikahan cenderung ekslusif. Hanya tamu undangan yang bisa masuk dan menikmati catering All You Can Eat mewah. Venue di Hall dengan dekorasi yang megah, crew yang professional dari wedding organize, dan tamu undangan yang menggunakan pakaian yang mewah. Untuk hiburan, ada penyanyi dan lagu-lagu berbahasa inggris, sebagai tambahan ada lagu dari tulus atau payung teduh. Semua itu hanya ada di pernikahan masyarakat kota.
Berbanding terbalik dengan masyarakat desa, hanya bermodalkan tarup dan menutup jalan masyarakat desa sudah siap melakukan pesta pernikahan. Tamu undangan juga sangat bebas bagi yang ingin datang, selama masih kenal dengan calon mempelai atau keluarga mempelai, gas saja. soal makanan biasanya terdapat 2 tipe.
Ada yang menggunakan “ambil sendiri sebebasnya” dan juga “ambil yang tersedia”. Untuk pakaian sudah jelas menggunakan batik dan songkok nasional sebagai andalan. Hiburan Masyarakat desa tidak perlu ditanyakan lagi, ada dangdutan dengan sound system yang siap menggetarkan kaca-kaca tetangga menjadi hal wajib untuk setiap pernikahan. kalau dari keluarga syar’i biasanya mengundang sholawatan dengan bendera-bendera yang ngalah-ngalahin konser slank.
Dari perbedaan antara Masyarakat kota dan Masyarakat desa, terdapat stigma dan pandangan norak pada masyarakat desa dalam merayakan pernikahan. Penggunaan dekor yang sangat ramai seperti dekor warna pink, hijau greenscreen, atau bahkan motif Doraemon. Beberapa orang melihat ini sebagai hal norak, padahal sebenarnya semua itu karena preferensi tiap daerah. Di daerah seperti nganjuk, tulungagung, trenggalek, dan beberapa daerah lainya. Mengundang biduan yang aduhai sebagai hiburan lumrah dalam pernikahan.
Dampak sosial ekonomi positif
Banyak masyarakat kota yang beranggapan bahwa pernikahan Masyarakat desa norak. Meskipun begitu, ternyata pernikahan Masyarakat desa justru memberikan dampak sosial ekonomi yang positif. Jika kita sedang buwuh ke teman atah saudara yang sedang nikahan yang di desa. Kita akan menjumpai ibu-ibu PKK yang gotong royong menyiapkan makanan untuk para tamu yang datang. Tanpa digaji, mereka saling membantu apabila tetangga satu desa sedang punya gawe.
Disinilah implementasi asli tanpa gimmick dari gotong royong. Coba kita lihat bagaimana masyarakat di kota yang cenderung individualis. Untuk catering dan makanan mereka cenderung memilih menggunakan jasa catering, ketimbang saling membantu antar tetangga.
Selain itu, terdapat pula pertumbuhan ekonomi untuk masyarakat sekitar. Pasti pernah dijumpai, ketika ada nikahan di desa, ada pedagang-pedagang yang membuka lapak di luaran venue pernikahan. Ada yang jual popice, kembang gula, sosis bakar, bahkan odong-odong pun kerap dijumpai.
Hal tesebut dapat memberikan dampak pada masyarakat sekitar secara ekonomi. Apalagi kalau dalam pesta pernikahan tesebut mengundang dangdutan atau sholawatan seperti habib syehk. Pedagang yang paling umum ditemui adalah penjual es teh, karena es teh memiliki target market yang sangat luas. Berbeda dengan sosis bakar, gulali, dan odong-odong target market mereka adalah orang tua yang membawa anak ke lokasi pernikahan.
Para pedagang sudah menemukan taktik bagaimana agar mereka mendapat untung dari pesta pernikahan. Dengan melihat titik lemah orang tua yang tidak betah melihat anaknya rewel saat melihat gulali dan odong-odong mereka siap memancing anak-anak untuk memeras uang orang tuanya. Terdapat poin positif lagi dari pernikahan masyarakat desa.
Pemberdayaan tetangga dan orang di desa menjadi hal yang sudah jarang pada masyarakat kota. Ibu-ibu PKK yang memasak di dapur dan bapak-bapak yang membantu menyambut tamu undangan atau angkat-angkat barang untuk keperluan kemeriahan acara dan para relawan ini tidak dibayar.
Pernikahan Desa, Lebih dari sekadar klise norak
Meskipun terdapat pandangan pada masyarakat desa dalam pernikahan. Justru masyarkat desa memiliki nilai yang tidak dimiliki oleh masyakat kota, yaitu saling memberikan dampak positif untuk kehidupan sosial dan ekonomi sekitar. Hal ini rasanya perlu diberikan apresiasi dan rasa bangga terhadap budaya yang kita punya.
Fenomena yang ditemukan dari perikahan di desa ternyata bukan hanya sebuah kesenangan untuk keluarga mempelai. Namun, juga memberikan dampak sosial dan ekonomi pada masyarakat sekitar. Pernikaha di desa membuktikan bahwa kebahagiaan tidak selalu di ukur melalui kemewahan, melainkan dari kehangatan hati dan rasa saling membantu yang mewarnai momen sakral ini.
Penulis: Zakiyuddin M. Hafidz
Editor: Abdul Khair







