Wisata Petik Madu di Lawang kembali mencuri perhatian, kali ini lewat sentuhan segar dari tangan-tangan muda mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui event bertajuk Bee Explorer, mahasiswa yang tergabung dalam tim Octavision menghadirkan konsep wisata edukatif interaktif yang menyasar kalangan remaja hingga dewasa, sekaligus memperluas segmentasi pengunjung destinasi tersebut.
Acara ini merupakan bagian dari praktikum mata kuliah Manajemen Event, namun para mahasiswa tidak berhenti pada tuntutan akademik semata. Mereka menyulap kawasan Petik Madu menjadi ruang eksplorasi yang imajinatif dengan pendekatan kreatif yang lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda. Edukasi tentang lebah, pengalaman langsung memegang lebah, mencicipi madu dari sarang, naik ATV, hingga membuat lilin aromaterapi dari beeswax menjadi bagian dari pengalaman yang ditawarkan.
Kegiatan tersebut terbukti berhasil menciptakan pengalaman yang berbeda dan menyenangkan. Suasana hangat dan antusias tampak dari para peserta yang sebagian besar berasal dari kalangan muda. Mereka tidak hanya menikmati wahana, tetapi juga mendapatkan pemahaman baru tentang lebah, madu, dan ekosistem alam. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa wisata edukatif bisa dikemas lebih aktif dan menyenangkan tanpa kehilangan nilai pembelajarannya.
Menurut Dias, perwakilan tim Octavision, konsep acara ini dirancang untuk menyesuaikan keinginan pengelola yang ingin memperluas jangkauan wisata ke segmen remaja dan dewasa. “Kami ingin menciptakan suasana baru yang berbeda dari citra Petik Madu sebelumnya yang cenderung identik dengan kunjungan anak-anak sekolah,” ujarnya.
Respons positif juga datang dari pihak pengelola. Mas Hendro, selaku pengelola Wisata Petik Madu, menyampaikan apresiasinya terhadap gagasan yang dihadirkan oleh mahasiswa. Ia menilai pendekatan ini bisa menjadi model pengembangan wisata berbasis kolaborasi antara dunia pendidikan dan pelaku wisata lokal. “Ini bisa menjadi alternatif kegiatan wisata yang menyenangkan dan tetap edukatif untuk kalangan yang lebih luas,” tuturnya.
Inisiatif ini menjadi contoh konkret bagaimana perguruan tinggi bisa berkontribusi dalam pengembangan potensi daerah. Kreativitas dan riset mahasiswa terbukti mampu melahirkan solusi nyata bagi industri wisata. Selain memperkaya pengalaman pengunjung, kegiatan ini juga memperkuat nilai lokal yang dimiliki destinasi seperti Petik Madu.
Melalui Bee Explorer, mahasiswa UMM tidak hanya menggelar sebuah event, tetapi turut menghidupkan semangat inovasi dalam pengelolaan wisata. Diharapkan konsep seperti ini bisa menginspirasi lebih banyak inisiatif serupa, baik di sektor pariwisata maupun pengabdian masyarakat secara luas. Wisata Petik Madu pun kini bukan hanya tentang anak-anak dan madu, tetapi juga tentang masa depan pariwisata edukatif yang ramah bagi semua usia.
Editor: Abdul Khair







