Mengatasi risiko tinggi di industri lokal, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dari Tim PMM 47 menggelar sosialisasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang inovatif di Lingkungan Polaman, Kelurahan Dampit. Dengan fokus pada industri karoseri dan pengolahan kelapa, mereka memanfaatkan metode HIRA untuk mengidentifikasi potensi bahaya dan meningkatkan efisiensi serta keselamatan kerja, menjadikan kegiatan ini langkah awal penting menuju lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) ini adalah untuk mengaplikasikan Hilirisasi hasil Penelitian Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Program ini bertujuan untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dengan kondisi nyata di masyarakat, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.
Kegiatan ini didampingi oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Luqman Dzul Hilmi, dari Universitas Muhammadiyah Malang. Tim PMM 47 yang terlibat dalam pelaksanaan sosialisasi ini terdiri dari mahasiswa-mahasiswa Teknik Industri, yakni Ikvan A.S, Haidar M.I, Aryo R, M. Rayhan B, dan M. Ilzam H. Mereka bekerja sama dalam memberikan edukasi tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) kepada masyarakat dan pelaku industri di Lingkungan Polaman, Dampit.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah sosialisasi mengenai pentingnya penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada industri karoseri dan industri pengolahan kelapa yang menjadi bahan baku santan. “Dengan adanya penerapan K3 yang baik, diharapkan dapat mengurangi angka kecelakaan kerja, sehingga perusahaan dapat berjalan lebih efisien dan pekerja dapat bekerja dengan rasa aman dan nyaman,” ungkap Haidar M.I, salah satu anggota Tim PMM 47.
Industri karoseri dan pengolahan kelapa di Polaman merupakan sektor dengan potensi risiko kecelakaan kerja yang tinggi. Oleh karena itu, penerapan K3 sangat krusial untuk menjamin keselamatan pekerja dan meningkatkan efisiensi operasional. Namun, penerapan K3 sering kali masih kurang mendapatkan perhatian dari pengusaha dan pekerja di lapangan.
Sebagai bagian dari upaya peningkatan kesadaran, Tim PMM 47 menggunakan metode HIRA (Hazard Identification and Risk Assessment) untuk menganalisis risiko di kedua industri tersebut. Metode ini membantu dalam mengidentifikasi potensi bahaya dan menilai tingkat risiko yang ada, sehingga langkah-langkah pencegahan yang tepat dapat diambil.
Dalam sosialisasi di industri karoseri, Tim PMM 47 menekankan pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti masker, sarung tangan, dan sepatu keselamatan. Mereka juga memberikan himbauan mengenai penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) untuk penanggulangan kebakaran dan evakuasi darurat, mengingat risiko kebakaran yang tinggi di industri ini. “Rekomendasi dari Tim PMM 47 sangat membantu kami dalam memahami risiko yang ada dan bagaimana menguranginya,” ujar Ibu Susi, pemilik industri karoseri di Polaman.
Di industri pengolahan kelapa, Tim PMM 47 menemukan bahwa proses pengolahan dilakukan secara manual tanpa menggunakan mesin. Dalam hal ini, tenaga kerja manusia memainkan peran utama dalam setiap tahapan proses, mulai dari pengupasan hingga pemerasan santan. Tim mengidentifikasi beberapa potensi bahaya, seperti cedera akibat postur kerja yang tidak ergonomis dan kelelahan fisik yang berlebihan.
Dalam laporan yang disusun, mereka memberikan solusi pencegahan, termasuk penyesuaian postur kerja dan penggunaan sarung tangan. “Selama ini, kami bekerja dengan apa adanya, tanpa menyadari bahwa kenyamanan kerja bisa ditingkatkan dengan memperhatikan aspek ergonomi, tata letak ruang, dan K3,” ujar salah satu pekerja di industri kelapa.
Respon masyarakat dan pelaku industri di Lingkungan Polaman sangat positif terhadap inisiatif ini. Mereka menunjukkan ketertarikan untuk menerapkan prosedur K3 dalam operasi sehari-hari, dan beberapa pemilik usaha bahkan menyatakan akan segera mengadopsi rekomendasi dari Tim PMM 47.
Harapannya dari kegiatan ini dapat menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif di Lingkungan Polaman Dampit. Edukasi mengenai K3 perlu terus digalakkan agar tercipta budaya kerja yang peduli akan keselamatan dan kesehatan, baik di industri karoseri, industri pengolahan kelapa, maupun sektor-sektor industri lainnya di Indonesia.
Editor: Abdul Khair







