Imparo.net

IMM Restorasi Bangun Kesadaran Perbedaan Lewat Psikoedukasi Anti-Perundungan

IMM Restorasi menggelar program psikoedukasi anti-perundungan dengan tema ‘Berani Berbicara, Berani Bertindak’, menutup rangkaian kegiatan ‘3 in 1 day’. Disambut penuh antusiasme oleh siswa-siswi SDN 02 Ampeldento, acara ini bertujuan meningkatkan kesadaran akan perbedaan individu dan mengenalkan tindakan asertif. Kolaborasi dengan berbagai lembaga dan organisasi memperkaya keberlangsungan kegiatan, sementara metode pembelajaran yang interaktif dan kreatif diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang inklusif dan aman bagi semua siswa (25/03).

Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (23/03) ini disambut dengan antusias penuh dari siswa siswi SDN 02 Ampeldento malang. Meskipun dilakukan di bulan Ramadhan tidak mengurangi semangat siswa dalam mengikuti rangkaian acara yang dilaksanakan. Sasaran dari kegiatan ini adalah siswa kelas 4 hingga 6 SDN 02 Ampeldento.

Kegiatan ini diharapkan mampu memberikan pengetahuan kepada siswa terhadap perbedaan individu dan mengenal tindakan asertif yang dapat dilakukan ketika seseorang mengalami perundungan.

Kegiatan ini dikoordinir oleh IMM Restorasi yang berkolaborasi dengan Biro psikologi kancamu, Aktivis Peneleh, IMM Fascho dan organisasi masyarakat lainnya demi meramaikan keberlangsungan kegiatan. 

Selain itu kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada para Volunteer agar dapat berinteraksi secara langsung dengan siswa dengan mendampingi mereka selama kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan.

Aqilla Haya, koordinator kegiatan, mengungkapkan harapannya bahwa melalui psikoedukasi anti-perundungan tema “Berani Berbicara, Berani Bertindak”, siswa dapat memahami pentingnya menghargai perbedaan individu, mengenal tindakan asertif, dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta inklusif bagi pertumbuhan dan perkembangan positif siswa.

“Melalui kegiatan ini dengan meninggalkan kesan yang dalam mengenai pentingnya menghargai perbedaan individu, memperkenalkan tindakan asertif, dan mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman serta inklusif bagi semua siswa, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang secara positif salam suasana yang mendukung,” harapanya.

Kegiatan psikoedukasi ini juga dikemas dalam metode pembelajaran yang menyenangkan dimana siswa diberikan permainan kelompok dengan tugas untuk melengkapi anggota tubuh kemudian mempresentasikannya, permainan ini bertujuan untuk mengajak siswa mengenal perbedaan individu. 

Selain itu terdapat kegiatan melukis di media tote bag yang mengajak siswa untuk dapat melakukan kampanye mengenai anti perundungan. Kegiatan ini juga diisi dengan materi mengenai perbedaan individu, hak asertif dan penolakan terhadap perundungan.

“Semoga kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong tindakan nyata dalam menciptakan lingkungan sekolah yang baik bagi semua,” lanjut Aqilla.

Diadakannya kegiatan ini diharapkan juga untuk melakukan tindakan preventif terhadap keresahan-keresahan yang terjadi di lingkungan sekolah saat ini, dimana maraknya perilaku perundungan yang akhir-akhir ini viral di sosial media. Sungguh kelam masa depan insan muda nanti jika fenomena ini terus terjadi tanpa adanya perhatian khusus dari kita para penggerak perubahan.

Penulis: Devira (Medkom IMM Restorasi)

Editor: Abdul Khair

Terbaru

Terpopuler

  • donasi-imparo

    Post Terkait